MEDAN — Derita korban banjir Bukit Tempurung, Aceh Tamiang, benar-benar di ambang batas kemanusiaan. Rumah hancur, harta benda lenyap disapu arus, sanak saudara banyak yang hilang.
Bahkan, pakaian yang mereka kenakan saat banjir datang menjadi satu-satunya yang tersisa—melekat di badan selama berhari-hari.
Dalam kondisi itu, mereka bertahan delapan hari tanpa makanan yang layak dan mengalami kesulitan menunaikan sholat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah kepedihan tersebut, Erwinsyah JZ 02 AUE datang dengan ketulusan bersama sang istri, Ibu Juli Hartati,
Ia menyerahkan bantuan perlengkapan sholat kepada Ibu Neneng dan putrinya, Annisa, keluarga korban banjir asal Jalan Rantau Bukit Tempurung, Lorong Masjid, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang kini mengungsi di Jalan Pelita I, Medan Perjuangan.
Sejak banjir bandang merenggut kampung halaman mereka, keluarga ini hidup dalam keterbatasan ekstrem. Tak ada pakaian ganti, tak ada harta yang tersisa. Lebih menyayat, ibadah pun terhambat karena sajadah, mukena, dan sarung hanyut bersama arus banjir.
Melihat kondisi itu, Erwinsyah JZ 02 AUE tergerak. Tanpa banyak kata, ia datang membawa bantuan yang mungkin terlihat sederhana, namun memiliki makna besar: mengembalikan kesempatan korban untuk kembali bersujud dengan layak di tengah keterpurukan.
Momen penyerahan bantuan berlangsung haru. Air mata Ibu Neneng tak terbendung saat menerima perlengkapan sholat tersebut. Baginya, kehadiran Erwinsyah JZ 02 AUE adalah bukti bahwa di saat mereka nyaris putus asa, Allah menghadirkan pertolongan melalui tangan orang-orang baik.
Aksi kemanusiaan Erwinsyah JZ 02 AUE bersama Ibu Juli Hartati ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan empati masih hidup.
Di tengah bencana yang merenggut segalanya—bahkan hingga pakaian hanya tersisa di badan—uluran tangan tulus mampu membangkitkan kembali harapan dan kekuatan iman.(red)










